Archive for June, 2007

Puisi Waktu Bersamamu

Saturday, June 23rd, 2007

Aku
Takkan Melupakan Masa Itu

 

Dia.
. . . . . . . . . . .
Telah
menjadi sumber cahaya dalam malamku
menjadi
hembusan sejuk menyegarkan dalam gurunku
menjadi
api penghangat jiwa dalam kutubku
sepenuhnya.

Dan
saat hari ini bukan lagi hari yang akan datang
dimana
aku bukan lagi aku yang kau banggakan
serta
berubah jauh dari yang kau andalkan
namun,

Aku
takkan melupakan masa itu
yang
telah kita lalui sejak terbitnya sang surya
dengan
bersama kita menapaki hari-hari indah
walau
nantinya kau ubah menjadi buku sejarah

Aku
takkan melupakan masa bersamamu
dan
tak ada yang perlu tahu kau adalah sayangku
yang
selalu kukenang selama kumasih mampu berkedip


Dan
jika mentari terbit ‘tuk kesekian kali
kuharapkan
ingatanmu tentang semua masa yang kita lewati
dan
ingatlah dengan tegas
memilih
bisu bukan buat engkau terhenti bernafas

Christ


240104

Kau Tak Pernah Jadi Milikku

Sunday, June 17th, 2007

Di atas, puncak Sinabung yang angkuh
Terbelai lembut dingin jemarinya, menusukku perlahan

Kali ini aku merenung sendiri, tertelan sepi menatap mentari
terbit di sela-sela pedihku, merobek lebar ke dalam nurani
Kau sudah pergi dan tak akan datang saat ini…
Kurasakan angin yang kosong, tak bernyawa, tak seperti masa kita dahulu
di Puncak Sinabung yang kujejak, taklukkan
congkaknya hatiku

Kucari dimana titik aku beranjak mengejar pengakuanmu
mendengar kata iya atas tulus cintaku, untukmu

Berlalu, sayang…
kasihku yang percuma kau buang, ke jurang
di sini, lembah di hadapanku ini
Kau bosan? Menunggu tulus cinta yang kutawarkan
Lalu kau tak mengakuinya, sekedar akuinya…
Betapa kita berada di kutub berbeda

Roh cinta terbang, mati mengenaskan tersambut jalang
aku tak bisa menjadi penanti setia untukmu
Aku ingin lebih berarti daripada mendaki puncak ini, dan
Angin Sinabung membelai rambutku, terpancar fatamorgana kenangan bersamamu
Langkahmu,…
lalu dekapan hangat itu, seperti masa lalu…
Tapi kau bukan milikku
Tak pernah jadi milikku

Christ

Kau Tak Ada

Friday, June 15th, 2007

Malam merayap di punggungku…
Meresap dalam mendirikan takut teramat sangat, dan kaku
seperti ini, kelam yang kurasakan saat kau tak di sisi
apa kau tahu sengitnya hati melawan sepi?

Semakin melaju malam di antara remang luna
tersendat asa merindukan dara
sepertimu, sayangnya selalu begitu

Kau tak pernah mengerti pedih ini yang temani
kenapa tiada kau saat ini?
Lalu malam semakin merapatkan duduknya di sampingku
membelai getir menyeramkan,
hingga aku tak mengingat kursi manismu
dalam hatiku

Luna kelam merenggut waktuku, sayangnya kurangkai untukmu
yang kusimpan untuk ucapkan betapa aku rindu
saat untuk bisa mencium wangi rambutmu
malam ini
Tapi, malam ini menggantikan sosokmu di hati
walau tak pernah kuingini, peri
Lalu kubuang muka, memendam dendam ingkarmu
kenapa kau tak datang?
kenapa pergi tak biang-bilang?
Apa kau rela digantikan malam?

Kubuang asa dan rinduku
malam berlalu mengajak jarum waktu pergi
kau takkan datang malam ini
Kurangkai mimpi tanpamu, melipat tangan dan doakan

Membosankan

Monday, June 11th, 2007

Aku tak tahu dengan segala macam talenta yang ada padaku.
Malah aku mulai berpikir kalau semuanya membuat bingung arah hidupku.
Mungkin benar katanya, susah sekali kalau hidup kita begitu kompleksnya.
Seperti aku. Cukup egois dalam segala hal. Misalnya, aku ingin menguasai suatu keahlian. Maka, kupikir aku harus benar-benar menguasainya. Tapi, suatu masalah timbul saat usiaku mulai menua. Memang sih masih 20 tahun. Tapi, semua menuntut suatu keseriusan dalam mencapai cita-cita.

Aku sungguh pribadi yang kompleks. Berikut dengan segala macam keahlian yang membuatku bingung mau meneruskan kemana.
Aku suka musik. begitu juga dengan sastra. Atau dengan kata lain menulis cerita. Memang sih, kadang ide menulis itu muncul begitu saja. Dan satu hal yang paling sulit adalah menyelesaikannya. Contohnya, saat ini aku sudah menulis sebuah cerita petualangan yang menurutku terlalu kekanak-kanakan untuk ukuran penulis berumur 20 tahun sepertiku.
Rencananya sih aku mau menjadi novelis cerita detektif. Aku membuat tokoh Christ seperti namaku di dalamnya. Aku berusaha membuat cerita yang menarik minat pembaca dan mencerdaskan mereka. Ada 3 buah ide cerita yang masih dalam proses pengerjaan dan satu buah di kepalaku saat ini. Tapi, yang kurasakan sekarang adalah satu kata, yaitu "m a l a s". Heran, sungguh aku heran.
Aku juga suka melukis. Dan keahlian ini kudapatkan begitu saja dari Tuhan. Ini disebut anugerah. Sebuah talenta. Dan aku juga pernah sukses dengan keahlian ini. Itu dulu sewaktu aku masih SD dan SMP. Sekarang, semuanya serba sulit. Melukis adalah jiwaku. Suatu kebutuhan yang anehnya bisa kutinggalkan begitu saja. Betapa aku telah menyia-nyiakan anugerah Tuhan. Tapi, di suatu kesempatan aku juga ingin kembali melukis dan terus mengembangkannya menjadi lebih besar dari yang dulu.
Musik. Ini lagi menjadi hobby yang sangat aku gemari. Dan karena musik, aku bisa dengan mudah bergaul. Lagipula keahlianku ini sedikt banyaknya membuat aku lebih santai menjalani hari-hari penat. kesibukan dan kemalasan. Aku juga membentuk sebuah grup band sejak SMU dan berlanjut sampai sekarang. Tapi dengan komposisi berbeda. Aku berniat mengenalkan lagu-laguku ke telinga pendengar di Indonesia. Sebagai alat pemuas kebutuhan emosi belaka.
Sekarang, kemana aku melangkah. Suatu saat aku bingung. AKu benar-benar bingung. ditambah lagi perkuliahanku yang berjalan di batuan buruk. Aku kesulitan menjalani ilmu komputer dengan logika matematika dan pikiran eksaknya. Entahlah. Aku berpikir semuanya malah memusingkanku. Benar-benar memberatkan langkahku.

Kembali

Tuesday, June 5th, 2007

Kita berjalan lagi…
Seperti dulu
….
walau aku pun mengakui
aku tak pernah bertemu merpati
Seperti engkau
Saat tiada belai lembut di rambutku
….
Kau seperti merpati
di sini membelaiku
Selalu